Senin, 11 Juni 2012

andragogi

2.4. Kondisi Pembelajaran Orang Dewasa
Pembelajaran yang diberikan kepada orang dewasa dapat efektif (lebih cepat dan melekat pada
ingatannya), bilamana pembimbing (pelatih, pengajar, penatar, instruktur, dan sejenisnya) tidak
terlalu mendominasi kelompok kelas, mengurangi banyak bicara, namun mengupayakan agar
individu orang dewasa itu mampu menemukan alternatif-alternatif untuk mengembangkan
kepribadian mereka. Seorang pembimbing yang baik harus berupaya untuk banyak
mendengarkan dan menerima gagasan seseorang, kemudian menilai dan menjawab pertanyaan
yang diajukan mereka. Orang dewasa pada hakekatnya adalah makhluk yang kreatif bilamana
seseorang mampu menggerakkan/menggali potensi yang ada dalam diri mereka. Dalam upaya
ini, diperlukan keterampilan dan kiat khusus yang dapat digunakan dalam pembelajaran tersebut.
Di samping itu, orang dewasa dapat dibelajarkan lebih aktif apabila mereka merasa ikut dilibatkan
dalam aktivitas pembelajaran, terutama apabila mereka dilibatkan memberi sumbangan pikiran
dan gagasan yang membuat mereka merasa berharga dan memiliki harga diri di depan sesama
temannya. Artinya, orang dewasa akan belajar lebih baik apabila pendapat pribadinya dihormati,
dan akan lebih senang kalau ia boleh sumbang saran pemikiran dan mengemukakan ide
pikirannya, daripada pembimbing melulu menjejalkan teori dan gagasannya sendiri kepada
mereka.
Oleh karena sifat belajar bagi orang dewasa adalah bersifat subjektif dan unik, maka terlepas dari
benar atau salahnya, segala pendapat, perasaan, pikiran, gagasan, teori, sistem nilainya perlu
dihargai. Tidak menghargai (meremehkan dan menyampingkan) harga diri mereka, hanya akan
mematikan gairah belajar orang dewasa. Namun demikian, pembelajaran orang dewasa perlu
pula mendapatkan kepercayaan dari pembimbingnya, dan pada akhirnya mereka harus
mempunyai kepercayaan pada dirinya sendiri. Tanpa kepercayaandiri tersebut, maka suasana
belajar yang kondusif tak akan pernah terwujud.
Orang dewasa memiliki sistem nilai yang berbeda, mempunyai pendapat dan pendirian yang
berbeda. Dengan terciptanya suasana yang baik, mereka akan dapat mengemukakan isi hati dan
isi pikirannya tanpa rasa takut dan cemas, walaupun mereka saling berbeda pendapat. Orang
dewasa mestinya memiliki perasaan bahwa dalam suasana/ situasi belajar yang bagaimanapun,
mereka boleh berbeda pendapat dan boleh berbuat salah tanpa dirinya terancam oleh sesuatu
sanksi (dipermalukan, pemecatan, cemoohan, dll).
Keterbukaan seorang pembimbing sangat membantu bagi kemajuan orang dewasa dalam
mengembangkan potensi pribadinya di dalam kelas, atau di tempat pelatihan. Sifat keterbukaan
untuk mengungkapkan diri, dan terbuka untuk mendengarkan gagasan, akan berdampak baik
bagi kesehatan psikologis, dan psikis mereka. Di samping itu, harus dihindari segala bentuk
akibat yang membuat orang dewasa mendapat ejekan, hinaan, atau dipermalukan. Jalan terbaik
hanyalah diciptakannya suasana keterbukaan dalam segala hal, sehingga berbagai alternatif
kebebasan mengemukakan ide/gagasan dapat diciptakan.
Dalam hal lainnya, tidak dapat dinafikkan bahwa orang dewasa belajar secara khas dan unik.
Faktor tingkat kecerdasan, kepercayaan diri, dan perasaan yang terkendali harus diakui sebagai
hak pribadi yang khas sehingga keputusan yang diambil tidak harus selalu sama dengan pribadi
orang lain. Kebersamaan dalam kelompok tidak selalu harus sama dalam pribadi, sebab akan
sangat membosankan kalau saja suasana yang seakan hanya mengakui satu kebenaran tanpa
adanya kritik yang memperlihatkan perbedaan tersebut. Oleh sebab itu, latar belakang
pendidikan, latar belakang kebudayaan, dan pengalaman masa lampau masing-masing individu
dapat memberi warna yang berbeda pada setiap keputusan yang diambil.
Bagi orang dewasa, terciptanya suasana belajar yang kondusif merupakan suatu fasilitas yang
mendorong mereka mau mencoba perilaku baru, berani tampil beda, dapat berlaku dengan sikap
baru dan mau mencoba pengetahuan baru yang mereka peroleh. Walaupun sesuatu yang baru
mengandung resiko terjadinya kesalahan, namun kesalahan, dan kekeliruan itu sendiri
merupakan bagian yang wajar dari belajar.
Pada akhirnya, orang dewasa ingin tahu apa arti dirinya dalam kelompok belajar itu. Bagi orang
dewasa ada kecenderungan ingin mengetahui kekuatan dan kelemahan dirinya. Dengan
demikian, diperlukan adanya evaluasi bersama oleh seluruh anggota kelompok dirasakannya
berharga untuk bahan renungan, di mana renungan itu dapat mengevaluasi dirinya dari orang
lain yang persepsinya bisa saja memiliki perbedaan.
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_SEKOLAH/195109141975011-AYI_OLIM/andragogi_PDF2.pdf 

Jumat, 08 Juni 2012

Andragogi


Teori Belajar Andragogi
1.     Pengertian Teori Belajar Andragogi
Andragogi berasal dari bahasa Yunani kuno: "aner", dengan akar kata andr, yang berarti orang dewasa, dan agogus yang berarti membimbing atau membina. Istilah lain yang sering dipergunakan sebagai perbandingan adalah "pedagogi", yang ditarik dari kata "paid" artinya anak dan "agogus" artinya membimbing atau memimpin. Dengan demikian secara harfiah "pedagogi" berarti seni atau pengetahuan membimbing atau memimpin atau mengajar anak. Karena pengertian pedagogi adalah seni atau pengetahuan membimbing atau mengajar anak maka apabila menggunakan istilah pedagogi untuk kegiatan pendidikan atau pelatihan bagi orang dewasa jelas tidak tepat, karena mengandung makna yang bertentangan. Banyak praktik proses belajar dalam suatu pelatihan yang ditujukan kepada orang dewasa, yang seharusnya bersifat andragogis, dilakukan dengan cara-cara yang pedagogis. Dalam hal ini prinsip-prinsip dan asumsi yang berlaku bagi pendidikan anak dianggap dapat diberlakukan bagi kegiatan pelatihan bagi orang dewasa.
Dengan demikian maka kalau ditarik pengertiannya sejalan dengan pedagogi, maka andragogi secara harfiah dapat diartikan sebagai ilmu dan seni mengajar orang dewasa. Namun karena orang dewasa sebagai individu yang sudah mandiri dan mampu mengarahkan dirinya sendiri, maka dalam andragogi yang terpenting dalam proses interaksi belajar adalah kegiatan belajar mandiri yang bertumpu kepada warga belajar itu sendiri dan bukan merupakan kegiatan seorang guru mengajarkan sesuatu (Learner Centered Training/Teaching).

2.     Perkembangan Teori Belajar Andragogi
Malcolm Knowles dalam publikasinya yang berjudul "The Adult Learner, A Neglected Species" yang diterbitkan pada tahun 1970 mengungkapkan teori belajar yang tepat bagi orang dewasa. Sejak saat itulah istilah "Andragogi" makin diperbincangkan oleh berbagai kalangan khususnya para ahli pendidikan.
Sebelum muncul Andragogi, yang digunakan dalam kegiatan belajat adalah Pedagogy. Konsep ini menempatkan murid/siswa sebagai obyek di dalam pendidikan, mereka mesti menerima pendidikan yang sudah di setup oleh sistem pendidikan, di setup oleh gurunya/pengajarnya. Apa yang dipelajari, materi yang akan diterima, metode panyampaiannya, dan lain-lain, semua tergantung kepada pengajar dan tergantung kepada sistem. Murid sebagai obyek dari pendidikan.
Kelemahannya Pedagogi adalah manusia (dalam hal ini adalah siswa) yang memiliki keunikan, yang memiliki talenta, memiliki minat, memiliki kelebihan, menjadi tidak berkembang, menjadi tidak bisa mengeksplorasi dirinya sendiri, tidak mampu menyampaikan kebenarannya sendiri, sebab yang memiliki kebenaran adalah masa lalu, adalah sesuatu yang sudah mapan dan sudah ada sampai sekarang. Perbedaan bukanlah menjadi hal yang biasa, melainkan jika ada yang berbeda itu akan dianggap sebagai sebuah perlawanan dan pemberontakan. Pedagogy memiliki kelebihan, yakni di dalam menjaga rantai keilmuan yang sudah diawali oleh orang-orang terdahulu, maka rantai emas dan benang merah keilmuan bisa dilanjutkan oleh generasi mendatang. Generasi mendatang tidak perlu mulai dari nol lagi, melainkan tinggal melanjutkan apa yang sudah ditemukan, apa yang sudah dirintis, apa yang sudah dimulai oleh generasi mendatang.
Dalam Andragogy inilah, kita kenal istilah-istilah Enjoy Learning, Workshop, Pelatihan Outbond,dll, dan dari konsep Pendidikan Andragogy inilah kemudian muncul konsep-konsep Liberalisme pendidikan, Liberasionisme pendidikan dan Anarkisme pendidikan. Liberalisme pendidikan bertujuan jangka panjang untuk melestarikan dan memperbaiki tatanan sosial yang ada dengan cara mengajar setiap siswa sebagaimana cara menghadapi  persoalan-persoalan dalam kehidupan sehari-hari secara efektif. Liberasionisme pendidikan adalah sebuah sudut pandang yang menganggap bahwa kita musti segera melakukan perombakan berlingkup besar terhadap tatanan politik (dan pendidikan) yang ada sekarang, sebagai cara untuk memajukan kebebasan-kebebasan individu dan mempromosikan perujudan potensi-potensi diri semaksimal mungkin. Bagi pendidik liberasionis, sekolah bersifat obyektif namun tidak sentral dan sekolah bukan hanya mengajarkan pada siswa bagaimana berpikir yang efektif secara rasional dan ilmiah, melainkan juga mengajak siswa untuk memahami kebijaksanaan tertinggi yang ada di dalam pemecahan-pemecahan masalah secara intelek yang paling meyakinkan. Dengan kata lain, liberasionisme pendidikan dilandasi oleh sebuah sistem kebenaran yang terbuka. Secara moral, sekolah berkewajiban mengenalkan dan mempromosikan program-program sosial konstruktif dan bukan hanya melatih pikiran siswa. Sekolahpun harus memajukan pola tindakan yang paling meyakinkan yang didukung oleh sebuah analisis obyektif berdasarkan fakta-fakta yang ada. Hal ini sejalan dengan pendapat Aristoteles tentang prinsip pendidikan yaitu sebagai wahana pengkajian fakta-fakta, mencari ‘yang obyektif’, melalui pengamatan atas kenyataan. Anarkisme pendidikan pada umumnya menerima sistem penyelidikan eksperimental yang terbuka (pembuktian pengetahuan melalui penalaran ilmiah). Tetapi berbeda dengan liberal dan liberasionis, anarkisme pendidikan beranggapan bahwa harus meminimalkan dan atau menghapuskan pembatasan-pembatasan kelembagaan terhadap perilaku personal, bahwa musti dilakukan untuk membuat masyarakat yang bebas lembaga. Menurut anarkisme pendidikan, pendekatan terbaik terhadap pendidikan adalah pendekatan yang mengupayakan untuk mempercepat perombakan humanistik berskala besar yang mendesak ke dalam masyarakat, dengan cara menghapuskan sistem persekolahan sekalian.
angkah-Langkah Pokok dalam Andragogi
Langkah-langkah pokok untuk mempraktikkan Andragogi adalah sebagai berikut:
a.      Menciptakan Iklim Pembelajaran yang Kondusif: Ada beberapa hal pokok yang dapat dilakukan dalam upaya menciptakan dan mengembangkan iklim dan suasana yang kondusif untuk proses pembelajaran, yaitu:
1)     Pengaturan Lingkungan Fisik: Pengaturan lingkungan fisik merupakan salah satu unsur dimana orang dewasa merasa terbiasa, aman, nyaman dan mudah. Untuk itu perlu dibuat senyaman mungkin:
a)     Penataan dan peralatan hendaknya disesuaikan dengan kondisi orang dewasa;
b)     Alat peraga dengar dan lihat yang dipergunakan hendaknya disesuaikan dengan kondisi fisik orang dewasa;
c)     Penataan ruangan, pengaturan meja, kursi dan peralatan lainnya hendaknya memungkinkan terjadinya interaksi social.
2)     Pengaturan Lingkungan Sosial dan Psikologi: Iklim psikologis hendaknya merupakan salah satu faktor yang membuat orang dewasa merasa diterima, dihargai dan didukung.
a)     Fasilitator lebih bersifat membantu dan mendukung;
b)     Mengembangkan suasana bersahabat, informal dan santai melalui kegiatan Bina Suasana dan berbagai permainan yang sesuai;
c)     Menciptakan suasana demokratis dan kebebasan untuk menyatakan pendapat tanpa rasa takut;
d)     Mengembangkan semangat kebersamaan;
e)     Menghindari adanya pengarahan dari "pejabat-pejabat" pemerintah;
f)       Menyusun kontrak belajar yang disepakati bersama.
3)     Diagnosis Kebutuhan Belajar: Dalam andragogi tekanan lebih banyak diberikan pada keterlibatan seluruh warga belajar atau peserta pelatihan di dalam suatu proses melakukan diagnosis kebutuhan belajarnya:
a)     Melibatkan seluruh pihak terkait (stakeholder) terutama pihak yang terkena dampak langsung atas kegiatan itu;
b)     Membangun dan mengembangkan suatu model kompetensi atau prestasi ideal yang diharapkan;
c)     Menyediakan berbagai pengalaman yang dibutuhkan;
d)     Lakukan perbandingan antara yang diharapkan dengan kenyataan yang ada, misalkan kompetensi tertentu.

4)     Proses Perencanaan: Dalam perencanaan pelatihan hendaknya melibatkan semua pihak terkait, terutama yang akan terkena dampak langsung atas kegiatan pelatihan tersebut. Tampaknya ada suatu "hukum" atau setidak tidaknya suatu kecenderungan dari sifat manusia bahwa mereka akan merasa 'committed' terhadap suatu keputusan apabila mereka terlibat dan berperanserta dalam pengambilan keputusan:
a)     Libatkan peserta untuk menyusun rencana pelatihan, baik yang menyangkut penentuan materi pembelajaran, penentuan waktu dan lain-lain;
b)     Temuilah dan diskusikanlah segala hal dengan berbagai pihak terkait menyangkut pelatihan tersebut;
c)     Terjemahkan kebutuhan-kebutuhan yang telah diidentifikasi ke dalam tujuan yang diharapkan dan ke dalam materi pelatihan;
d)     Tentukan pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas di antara pihak terkait siapa melakukan apa dan kapan.
5)     Memformulasikan Tujuan: Setelah menganalisis hasil-hasil identifikasi kebutuhan dan permasalahan yang ada, langkah selanjutnya adalah merumuskan tujuan yang disepakati bersama dalam proses perencanaan partisipatif. Dalam merumuskan tujuan hendaknya dilakukan dalam bentuk deskripsi tingkah laku yang akan dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut di atas.
6)     Mengembangkan Model Umum: Ini merupakan aspek seni dan arsitektural dari perencanaan pelatihan dimana harus disusun secara harmonis antara beberapa kegiatan belajar seperti kegiatan diskusi kelompok besar, kelompok kecil, urutan materi dan lain sebagainya. Dalam hal ini tentu harus diperhitungkan pula kebutuhan waktu dalam membahas satu persoalan dan penetapan waktu yang sesuai.
7)     Menetapkan Materi dan Teknik Pembelajaran: Dalam menetapkan materi dan metoda atau teknik pembelajaran hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a)     Materi pelatihan atau pembelajaran hendaknya ditekankan pada pengalaman-pengalaman nyata dari peserta pelatihan;
b)     Materi pelatihan hendaknya sesuai dengan kebutuhan dan berorientasi pada aplikasi praktis;
c)     Metoda dan teknik yang dipilih hendaknya menghindari teknik yang bersifat pemindahan pengetahuan dari fasilitator kepada peserta;
d)     Metoda dan teknik yang dipilih hendaknya tidak bersifat satu arah namun lebih bersifat partisipatif.
8)     Peranan Evaluasi Pendekatan: evaluasi secara konvensional (pedagogi) kurang efektif untuk diterapkan bagi orang dewasa. Untuk itu pendekatan ini tidak cocok dan tidaklah cukup untuk menilai hasil belajar orang dewasa. Ada beberapa pokok dalam melaksanakan evaluasi hasil belajar bagi orang dewasa yakni:
a)     Evaluasi hendaknya berorientasi kepada pengukuran perubahan perilaku setelah mengikuti proses pembelajaran/pelatihan;
b)     Sebaiknya evaluasi dilaksanakan melalui pengujian terhadap dan oleh peserta pelatihan itu sendiri (Self Evaluation);
c)     Perubahan positif perilaku merupakan tolok ukur keberhasilan;
d)     Ruang lingkup materi evaluasi "ditetapkan bersama secara partisipatif" atau berdasarkan kesepakatan bersama seluruh pihak terkait yang terlibat;
e)     Evaluasi ditujukan untuk menilai efektifitas dan efisiensi penyelenggaraan program pelatihan yang mencakup kekuatan maupun kelemahan program;
f)       Menilai efektifitas materi yang dibahas dalam kaitannya dengan perubahan sikap dan perilaku. 

Rabu, 06 Juni 2012

TUGAS MINI PROYEK 2011/2012


Anggota :

Ariansyah ( 11-063 )

Wahyu Habibie ( 11-075 )

Firman A Sebayang ( 11-123 )




Topik
 : Dinamika kreativitas dalam ruang lingkup pendidikan

Judul :  Kreativitas menggambar murid-murid TK Bhayangkari




Pendahuluan

Alasan kami memilih topik ini adalah karena kreativitas merupakn hal yang penting dan harus ada di dalam diri setiap individu, baik itu yang berkaitan dengan seni/keindahan maupun tentang kebervariasian cara seseorang dalam menyelesaikan masalah. Dalam proyek ini kami memusatkan perhatian kepada anak-anak TK. Mengapa ? karena menurut kami kreativitas itu hendaknya diajarkan sedini mungkin. Selain itu anak-anak pada usia prasekolah ini cenderung lebih aktif dan eksploratif, mereka memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Oleh karena itu, keaktifan mereka ini hendaknya dapat disalurkan dalam bentuk kreativitas.
Masa kanak-kanak merupakan masa paling penting karena merupakan merupakan pembentukan pondasi kepribadian dan hal-ha lain termasuk kreativitas. Mengembangkan kreativitas anak memerlukan peran penting pendidik hal ini secara umum sudah banyak dipahami. Suratno (2005 : 19) menjelaskan anak kreatif dan cerdas tidak terbentuk dengan sendirinya melainkan perlu pengarahan salah satunya dengan memberi kegiatan yang dapat mengembangkan kreativitas anak.

Selain itu, seperti yang kita ketahui, era globalisasi didominasi oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.  Dengan demikian secara otomatis dunia pada saat ini membutuhkan individu-individu kreatif dan produktif serta memiliki kemampuan daya saing yang tinggi dan tangguh. Daya saing yang tingi dan tangguh ini dapat terwujud jika anak didik memiliki kreativitas.

Sistem pendidikan saat ini hanya menonjolkan kemampuan akademik saja seperti kemampuan membaca dan berhitung. Orang tua dan guru merasa bangga bila anak didiknya mampu membaca dan berhitung dengan lancar tanpa memperhatikan bahwa nilai emosialnya juga merupakan hal penting. Seorang guru hanya menekankan metode pembelajaran yang mengasah kecerdasan otak kiri saja yaitu kemampuan membaca dan berhitung. Penggunaan metode yang statis membuat anak bosan dan akibatnya otak kanan yang berfungsi untuk mengembangkan kreativitas anak tidak dapat berkembang secara optimal.
Karena alasan-alasan di ataslah maka pada akhirnya kami memilih tema ini, dan adapun bentuk kreativitas yang ingin kami tonjolkan adalah mengenai kreativitas menggambar karena menurut kami hal ini bisa merangsangkan imajinasi anak.








Landasan Teori



Pengertian Kreativitas


1.Teori Psikoanalitik

Menganggap bahwa proses ketidaksadaran melandasi kreativitas. Kreativitas merupakan manifestasi dari kondisi psikopatologis.


 2.Teori asosiasi

Memandang kreativitas sebagai hasil dari proses asosiasi dan kombinasi antara elemen-elemen yang telah ada, sehingga menghasilkan sesuatu yang baru.


3.Teori gestalt

Memandang kreativitas sebagai manifestasi dari proses tilikan individu terhadap lingkungannya secara holistik.


4.Teori eksistensial

Mengemukakan bahwa kreativitas merupakan proses untuk melahirkan sesuatu yang baru melalui perjumpaan antara manusia dengan manusia, dan antara manusia dengan alam.
 Menurut May (1980), dengan teori eksistensial
ini, setiap perilaku kreatif selalu didahului oleh ‘perjumpaan’ yang intens dan penuh kesadaran antara manusia dengan dunia sekitarnya.


5.Teori intepersonal

Dengan menempatkan pencipta (kreator) sebagai inovator dan orang di sekeliling sebagai sebagai pihak yang mengakui hasil kreativitas, teori ini menekankan pentingnya nilai dan makna dari suatu karya kreatif. Nilai mengimplikasikan adanya pengakuan sosial.


6.Teori sifat atau ciri

Memberikan tempat khusus kepada usaha untuk mengidentifikasi ciri-ciri atau karakteristik-karakteristik utama kreativitas.


7. Menurut  NACCCE (National Advisory Committee on Creative and Cultural Education) (dalam Craft, 2005), kreativitas adalah aktivitas imaginatif yang menghasilkan hasil yang baru dan bernilai.


8. Feldman (dalam Craft, 2005) mendefinisikan kreativitas adalah:
“the achievement of something remarkable and new, something which transforms and changes a field of endeavor in a significant way . . . the kinds of things that people do that change the world.”


9. Munandar (1985), kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru, berdasarkan data, informasi atau unsur-unsur yang ada. Hasil yang diciptakan tidak selalu hal-hal yang baru, tetapi juga dapat berupa gabungan (kombinasi) dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya.


10. Csikszentmihalyi (dalam Clegg, 2008) menyatakan kreativitas sebagai tindakan, ide, atau produk yang mengganti sesuatu yang lama menjadi sesuatu yang baru.


11. Guilford (dalam Munandar, 2009) menyatakan kreativitas merupakan kemampuan berpikir divergen atau pemikiran menjajaki bermacam-macam alternatif jawaban terhadap suatu persoalan, yang sama benarnya.

Oleh karena beragamnya pendapat para ahli akan pengertian kreativitas, maka dapat disimpulkan bahwa kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan suatu produk yang baru ataupun kombinasi dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya, yang berguna, serta dapat dimengerti.







Ciri-ciri kreativitas



Guilford (dalam Munandar, 2009) mengemukakan ciri-ciri dari kreativitas antara lain:

a. Kelancaran berpikir (fluency of thinking), yaitu kemampuan untuk menghasilkan banyak ide yang keluar dari pemikiran seseorang secara cepat. Dalam kelancaran berpikir, yang ditekankan adalah kuantitas, dan bukan kualitas.

b. Keluwesan berpikir (flexibility), yaitu kemampuan untuk memproduksi sejumlah ide, jawaban-jawaban atau pertanyaan-pertanyaan yang bervariasi, dapat melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda-beda, mencari alternatif atau arah yang berbeda-beda, serta mampu menggunakan bermacam-macam pendekatan atau cara pemikiran. Orang yang kreatif adalah orang yang luwes dalam berpikir. Mereka dengan mudah dapat meninggalkan cara berpikir lama dan menggantikannya dengan cara berpikir yang baru.

c. Elaborasi (elaboration), yaitu kemampuan dalam mengembangkan gagasan dan menambahkan atau memperinci detail-detail dari suatu objek, gagasan atau situasi sehingga menjadi lebih menarik.

d. Originalitas (originality), yaitu kemampuan untuk mencetuskan gagasan unik atau kemampuan untuk mencetuskan gagasan asli.







Faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas

1. Dorongan dari dalam diri sendiri (motivasi intrinsik)

Menurut Roger (dalam Munandar, 2009) setiap individu memiliki kecenderungan atau dorongan dari dalam dirinya untuk berkreativitas, mewujudkan potensi, mengungkapkan dan mengaktifkan semua kapasitas yang dimilikinya.

Menurut Rogers (dalam Zulkarnain, 2002), kondisi internal (interal press) yang dapat mendorong seseorang untuk berkreasi diantaranya:

-Keterbukaan terhadap pengalaman

-Kemampuan untuk menilai situasi sesuai dengan patokan pribadi seseorang (internal locus of evaluation)

-Kemampuan untuk bereksperimen atau “bermain” dengan konsep-konsep.



2. Dorongan dari lingkungan (motivasi ekstrinsik)

Munandar (2009) mengemukakan bahwa lingkungan yang dapat mempengaruhi kreativitas individu dapat berupa lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Lingkungan keluarga merupakan kekuatan yang penting dan merupakan sumber pertama dan utama dalam pengembangan kreativitas individu. Pada lingkungan sekolah, pendidikan di setiap jenjangnya mulai dari pra sekolah hingga ke perguruan tinggi dapat berperan dalam menumbuhkan dan meningkatkan kreativitas individu. Pada lingkungan masyarakat, kebudayaan-kebudayaan yang berkembang dalam masyarakat juga turut mempengaruhi kreativitas individu.
Rogers (dalam Munandar, 2009) menyatakan kondisi lingkungan yang dapat mengembangkan kreativitas ditandai dengan adanya:

- Keamanan psikologis
Keamanan psikologis dapat terbentuk melalui 3 proses yang saling berhubungan, yaitu:

a) Menerima individu sebagaimana adanya dengan segala kelebihan dan keterbatasannya.

b) Mengusahakan suasana yang didalamnya tidak terdapat evaluasi eksternal (atau sekurang-kurangnya tidak bersifat atau mempunyai efek mengancam.

c) Memberikan pengertian secara empatis, ikut menghayati perasaan, pemikiran, tindakan individu, dan mampu melihat dari sudut pandang mereka dan menerimanya.



-Kebebasan psikologis
Lingkungan yang bebas secara psikologis, memberikan kesempatan kepada individu untuk bebas mengekspresikan secara simbolis pikiran-pikiran atau perasaan-perasaannya.




3. Selain faktor-faktor yang telah disebutkan di atas, terdapat berbagai faktor lainnya yang dapat menyebabkan munculnya variasi atau perbedaan kreativitas yang dimiliki individu, yang menurut Hurlock (1993) yaitu:

a. Jenis kelamin

b. Status sosial ekonomi

c. Urutan kelahiran

d. Ukuran keluarga

e. Lingkungan kota vs lingkungan pedesaan

f. Inteligensi







Tahap-tahap perkembangan kreativitas

Menurut Cropley (1999), terdapat 3 tahapan perkembangan kreativitas diantaranya:

a. Tahap prekonvensional (Preconventional phase)

Tahap ini terjadi pada usia 6–8 tahun. Pada tahap ini, individu menunjukkan spontanitas dan emosional dalam menghasilkan suatu karya, yang kemudian mengarah kepada hasil yang aestetik dan menyenangkan. Individu menghasilkan sesuatu yang baru tanpa memperhatikan aturan dan batasan dari luar.



b. Tahap konvensional (Conventional phase)

Tahap ini berlangsung pada usia 9–12 tahun. Pada tahap ini kemampuan berpikir seseorang dibatasi oleh aturan-aturan yang ada sehingga karya yang dihasilkan menjadi kaku. Selain itu, pada tahap ini kemampuan kritis dan evaluatif juga berkembang.



c. Tahap poskonvensional (Postconventional phase)

Tahap ini berlangsung pada usia 12 tahun hingga dewasa. Pada tahap ini, individu sudah mampu menghasilkan karya-karya baru yang telah disesuaikan dengan batasan-batasan eksternal dan nilai-nilai konvensional yang ada di lingkungan.





Yang paling kami garis bawahi adalah :



1.Pengertian kreativitas menurut :

Teori Eksistensial : Kreativitas merupakan proses untuk melahirkan sesuatu yang baru melalui perjumpaan antara manusia dengan manusia, dan antara manusia dengan alam.
Munandar : kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru, berdasarkan data, informasi atau unsur-unsur yang ada. Hasil yang diciptakan tidak selalu hal-hal yang baru, tetapi juga dapat berupa gabungan (kombinasi) dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya.

Guilford : kreativitas merupakan kemampuan berpikir divergen atau pemikiran menjajaki bermacam-macam alternatif jawaban terhadap suatu persoalan, yang sama benarnya.




2.Faktor yang mempengaruhi kreativitas yaitu dorongan dari lingkungan tepatnya tentang kebebasan psikologis (memberikan kesempatan kepada individu untuk bebas mengekspresikan secara simbolis pikiran-pikiran atau perasaan-perasaannya)




3.Tahap prekonvensional (Preconventional phase)
Tahap ini terjadi pada usia 6–8 tahun. Pada tahap ini, individu menunjukkan spontanitas dan emosional dalam menghasilkan suatu karya, yang kemudian mengarah kepada hasil yang aestetik dan menyenangkan. Individu menghasilkan sesuatu yang baru tanpa memperhatikan aturan dan batasan dari luar.

Seperti yang telah kami katakan sebelumnya, yang menjadi fokus kami adalah kreativitas menggambar dan berdasarkan hal yang kami garis bawahi di atas kami memunculkan beberapa pertanyaan yang ingin kami jawab melalui penelitian yang kami lakukan, yaitu :



1.Tema apakah yang paling disukai oleh murid TK Bhayangkari ?



2.Objek apakah yang paling disukai oleh murid TK Bhayangkari ?







Tujuan penelitian

1.Merangsang kreativitas anak.

2.Merangsang daya imajinasi anak.

3.Objek gambar yang paling diminati oleh anak TK Bhayangkari.





Alat dan bahan

1.Alat tulis :
            - kertas hvs
            -pensi
-penghapus

2.Kamera Handphone

3.Laptop

4.Reward :
            -penghapus
            -snack








Analisa Data



Metode yang kami gunakan adalah kami menyuruh murid-murid TK itu menggambar, dan kami memberikan kebebasan kepada mereka untuk menggambar apa saja sesuai dengan keinginan atau ketertarikan mereka.
Setelah itu kami mengklasifikasikan hasil gambar mereka berdasarkan jenis-jenis objeknya hingga didapatlah gambaran objek apa yang paling mereka minati.







Subjek penelitian


39 murid TK Bhayangkari Kelas B  :
            -19 murid laki-laki.
            -20 murid perempuan








Time table perencanaan kegiatan



Kegiatan
April
Mei
Juni
I
II
III
IV
I
II
III
IV
I
II
1.
Pemilihan tema

v









2.
Penentuan judul

v









3.
Diskusi metode pelaksanaan penelitian

v








4.
Penyusunan pendahuluan dan landasan teori


v







5.
Peninjauan lokasi





v






6.
Pelaksanaan observasi




v





7.
Penganalisaan data dan penarikan kesimpulan





v




8.
Penyusunan laporan







v



9.
Pembuatan Poster








v


10.
Evaluasi








v







Kalkulasi biaya yang telah dikeluarkan dari perencanaan hingga evaluasi

-Pembelian kertas HVS  :   Rp. 35.000
-Pembelian Reward        :   Rp. 20.000
-Transportasi                  :   Rp. 20.000
-Total                             : Rp.75.000






Pelaksanaan kegiatan



# Kamis, 19 April 2012

Kami melakukan diskusi untuk memilih tema dan mengambil lokasi di lingkungan Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.





# Kamis, 26 April 2012

Kami melakukan diskusi lanjutan untuk membahas judul penelitian, lalu dilanjutkan dengan pembahasan mengenai metode dan konsep-konsep penelitian yang ingin lakukan serta tentang apa saja yang akan dilakukan pada saat kegiatan observasi berlangsung.





 # Rabu, 2 Mei 2012

Setelah selesai kuliah, kami melakukan peninjauan lokasi, yaitu ke TK Bhayangkari di daerah Batangkuis





# Kamis, 3 Mei 2012

Kami melakukan pembahasan tentang pendahuluan dan landasan teori yang hendak dipakai sebagai landasan dalam melakukan penelitian ini.





# Kamis, 10 Mei 2012

Pada pukul 08.30 WIB, kami berangkat dari kampus menuju ke lokasi observasi. Sebelum tiba di lokasi, kami membeli reward yang akan kami bagikan.

Pada pukul 09.15 WIB, kami tiba di lokasi. Lalu kami menemui Kepala TK tersebut untuk mengatakan bahwa kami siap melakukan observasi, setelah itu kami bertemu dengan wali kelas dari kelas yang siswanya akan kami observasi, tujuannya untuk menerangkan tentang mekanisme kegiatan yang akan dilakukan.

Pukul 09.30 WIB, kami melakukan ramah tamah dengan murid-murid TK tersebut.

Pukul 09.35 WIB, observasipun dimulai. Kami membagikan kertas HVS, kemudian sang wali kelas juga membagikan pensil dan penghapus kepada murid-murid tersebut. Setelah itu kami menyuruh mereka untuk menggambar dan kami membebaskan tema gambar karena kami ingin membiarkan mereka bebas berimajinasi serta agar sesuai dengan tujuan penelitian kami. Selama berlangsungnya proses menggambar, kami menghampiri setiap murid, hal inimenjadi mudah karena ruangan keasnya tidak terlalu besar. Kami mengajak mereka bicara, kami bertanya tentang apa yang mereka gambar dan kenapa mereka menggambar itu. Tak lupa kami selalu memberikan pujian kepada hal ini agar mereka merasa dihargai dan agar menambah semangat mereka.

Pukul 10.00 WIB, kegiatan menggambar kami akhiri. Setelah itu kami membagikan reward yang telah kami sediakan.

Pukul 10.05 WIB, bertepatan dengan jam mereka pulang kami masih berada di dalam ruangan kelas, sang wali kelas menyuruh murid-murid itu untuk menyalami kami.   

Pukul 10.15 WIB, kami kembali menemui Kepala TK, kami menyamaikan bahwa observasi kami telah selesai sembari kami jelaskan pula tentang proses yang terjadi tadi. Setelah itu kami melakukan foto bersama dengan Kepala TK dan beberapa orang guru.

Pukul 10.35 WIB, kami kembali ke kampus.

Pukul 11.05 WIB, kami tiba di kampus namun karena ternyata tidak sesuai perkiraan, akhirnya kami tidak mengikuti perkuliahan Fisiologi.





# Senin, 14 Mei 2012

Setelah selesai kuliah Fisiologi, sekitar pukul 13.30 WIB, kami memeriksa hasil gambar mereka dan mulai mengkategorikan objek-objek gambar yang mereka buat. Setelah mengkategorikan hasil gambar mereka, kami mengakhiri diskusi.





# Kamis, 17 Mei 2012

Kami melanjutkan diskusi untuk melakukan penarikan kesimpulan.





# Minggu, 27 Mei 2012

Kami mulai melakukan penyusunan laporan kegiatan mini proyek ini. Mulai dari pengetikan pendahuluan, landasan teori dan semuanya sesuai dengan tata urutan yang ada.
Namun karena banyaknya tugas kuliah, akhirnya penyusunan inipun memakan waktu seminggu.



# Senin, 4 Juni 2012

Kami mulai membuat poster, untuk membuatnya kami menggunakan aplikasi Photoscape dan pembuatan poster ini membutuhkan waktu sehari.






# Selasa, 5 Juni 2012


poster telah diselesaikan, dan kami kembali mengecek laporan apakah terdapat kesalahan atau tidak, kemudian kami juga mengevaluasi kinerja kami, setelah semua selesai, kamipun memosting laporan ini di Blog.













Laporan



Pertama-tama kami mengkategorikan hasil gambar berdasarkan tema, maka kami mendapatkan tiga tema gambar, yaitu :



1.Lingkungan Rumah
Yaitu berkaitan dengan keadaan rumah dan halamannya.



2.Pemandangan
Yaitu berkaitan dengan keadaan alam pegunungan.



3.Campuran
Yaitu gambar yang mencampurkan beberapa objek sekaligus tanpa memperhatikan kondisi nyatanya.




Kemudian kami juga mendapatkan bermacam-macam objek gambar , seperti :



1.Rumah

2.Manusia

3.Gunung

4.Kartun ( spongebob squerpants )

5.Matahari/bulan

6.Hewan ( ubur-ubur )

7.Tumbuhan ( bunga dan pohon )

8.Kendaraan ( mobil )

9.Bentuk abstrak ( bentuk tidak beraturan )

10.Benda ( bendera, layang-layang )






Setelah itu kami menghitung frekuensi kemunculan masing-masing tema dan masing-masing objek gambar.
Maka didapatlah datanya sebagai berikut :

1. Dari 39 gambar, berikut ini adalah frekuensi tema yang ada.


No
Tema
Frekuensi pada keseluruhan hasil gambar

1.
Pemandangan
11
2.
Lingkungan rumah
18
3.
Campuran
10





2. Dari 39 gambar, berikut ini adalah frekuensi kemunculan objek gambar.


No

Objek

Frekuensi kemunculan pada keseluruhan hasil gambar

1.
Matahari
37
2.
Rumah
34
3.
Manusia
15
4.
Gunung
14
5.
Kartun
6
6.
Hewan
2
7.
Tumbuhan
27
8.
Kendaraan
3
9.
Abstrak
8
10.
Benda
2





3. Kami juga menghitung frekuensi pemilihan tema berdasarkan jenis kelamin.



Lingkungan rumah
No.
Jenis Kelamin
Frekuensi
1.
Laki-laki
9
2.
Perempuan
9




Campuran
No.
Jenis Kelamin
Frekuensi
1.
Laki-laki
5
2.
Perempuan
5




 Pemandangan
No.
Jenis Kelamin
Frekuensi
1.
Laki-laki
5
2.
Perempuan
6







Kesimpulan



Berdasarkan data-data di atas, untuk 39 murid kelas B TK. Bhayangkari Batangkuis, kami mengambil 3 kesimpulan, yaitu :



#Tema yang paling disukai/diminati oleh  murid (berdasarkan urutan) adalah :

1.       Lingkungan Rumah                  :               18 Pemilih

2.       Pemandangan                           :               11 Pemilih

3.       Campuran                                   :               10 Pemilih





# Objek gambar yang paling disukai/diminati oleh murid (berdaarkan urutan) adalah :

1.       Matahari                                       :               37 Kemunculan

2.       Rumah                                         :               34 Kemunculan

3.       Tumbuhan                                    :               27 Kemunculan

4.       Manusia                                       :               15 Kemunculan

5.       Gunung                                        :               14 Kemunculan

6.       Abstrak                                        :               8 Kemunculan

7.       Kartun                                          :               6 Kemunculan

8.       Kendaraan                                   :               3 Kemunculan

9.       Benda                                           :               2 Kemunculan

10.   Hewan                                          :               2 Kemunculan





# Pada setiap tema terdapat kesamaan jumlah pemilih, contohnya jumlah murid laki-laki yang memilih tema lingkungan rumah ada 9 orang, hal ini sama dengan jumlah murid perempuan yang memilih tema lingkungan rumah, yaitu juga 9 orang. Demikian pula kejadiannya pada dua tema lainnya.


Kesimpulan di atas tentunya telah menjawab 2 pertanyaan yang kami munculkan pada akhir pembahasan landasan teori, yaitu :



Tema pakah yang paling disukai oleh murid TK Bhayangkari (Kelas B) ?
                Jawabannya adalah :
                                1.Lingkungan Rumah
                                2.Pemandangan
                                3.Campuran




•Objek apakah yang paling diminati oleh murid TK Bhayangkari (Kelas B) ?
                Jawabannya adalah :
                                1.Matahari
                                2.Rumah
                                3.Tumbuhan
                                4.Manusia
                                5.Gunung
                                6.Abstrak
                                7.Kartun
                                8.Kendaraan
                                9.Benda
                                10.Hewan







Evaluasi



No.
Kegiatan


Tanggal Perencanaan
Tanggal Pelaksanaan
1.
Pemilihan tema

Minggu I April
Minggu III April
2.
Penentuan judul

Minggu I April
Minggu IV April
3.
Diskusi metode pelaksanaan penelitian
Minggu II April
Minggu IV April
4.
Penyusunan pendahuluan dan landasan teori
Mingu III April
Minggu I Mei
5.
Peninjauan lokasi


Minggu IV April
Minggu I Mei
6.
Pelaksanaan observasi
Minggu I Mei
Minggu II Mei
7.
Penganalisaan data dan penarikan kesimpulan
Minggu II Mei
Minggu III Mei
8.
Penyusunan laporan

Minggu III Mei
Minggu IV Mei
9.
Pembuatan Poster

Minggu IV Mei
Minggu I Juni
10.
Evaluasi

Minggu IV Mei
Minggu I Juni





Poster






Testimonial Anggota





Saya merasa dengan adanya  tugas mini proyek yang diberikan oleh ibu Dina, membuat saya mendapat pengalaman baru yang sangat penting didalam dunia perkuliahan kedepannya. Dalam mengerjakan tugas mini proyek ini saya dan teman satu kelompok banyak mendapatkan masalah-masalah, namun karena kerja sama yang bagus kami akhirnya bisa menyelesaikan tugas ini dengan baik. Dan saya yakin pengalaman ini pasti akan sangat berguna bagi kami, dan semoga kemampuan kami dapat semakin berkembang dengan adanya mini proyek ini. Saya mengucapkan terimakasih kepada Ibu Filia Dina Anggaraeni sebagai dosen pengampu, dan juga kepada semua yang telah terlibat di dalam pembuatan mini proyek ini. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih.






Bagi saya tugas mini proyek ini merupakan tantangan baru bagi saya. Menurut saya tugas ini sangat berguna, karena dengan adanya tugas ini kami jadi mulai berlatih untuk melakukan penelitian, sebagaimana kita ketahui bahwa menjadi mahasiswa psikologi tentunya akan sering berhubungan dengan penelitian. Melalui tugas mini proyek ini kami juga mendapatkan pengalaman lapangan yangmana kami terjun langsung ke tempat observasi, dan hal ini sangat menyenangkan bagi saya, kami jadi bisa berinteraksi secara langsung dengan murid-murid TK tersebut, mengajak mereka bicara, dan saling bercanda dengan mereka. Dan saya menyadari bahwa mini proyek ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu saya juga mengharapkan kritik dan saran. Dan tak lupa saya juga mengucapkan terimakasih kepada Ibu Filia Dina Anggaraeni sebagai dosen pengampu, kepada TK Bhayangkari Batangkuis yang telah bersedia menjadi objek mini proyek kami, dan kepada semua pihak-pihak yang telah terlibat dalam mini proyek ini. Sekian dan terimakasih.





Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih kepada ibu Filia Dina Anggaraeni yang telah memberikan kesempatan untuk mengerjakan tugas mini proyek ini. Dan tak lupa saya juga mengucapkan terima kasih kepada para staff pengajar TK Bhayangkari Batangkuis yang telah bersedia bekerjasama dan memfasilitasi tugas proyek mini ini. Dan yak lupa saya berterima kasih kepada teman-teman satu kelompok saya yang telah bersedia mencurahkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk sama-sama menyelesaikan tugas mini proyek ini.  Menurut saya, dengan adanya tugas mini proyek ini, sangat bermanfaat bagi mahasiswa, guna meningkatkan kreativitas mahasiswa. Banyak hal positif yang bisa diambil dari tugas mini proyek ini, seperti kami belajar untuk melakukan penelitian, belajar melakukan observasi, belajar bagaimana bekerjasama dengan teman-teman satu kelompok. Berkaitan dengan topik yang diambil, kami menjadi lebih tahu bagaimana situasi belajar-mengajar pada pendidikan anak prasekolah, khususnya pada TK yang kami observasi. Selain itu, banyak hal-hal yang menarik yang kami temukan, seperti bertemu dan berinteraksi dengan anak-anak TK yang lucu-lucu, dan sikap dari para pengajar yang rela mengajar dengan sepenuh hati dan dengan penuh kasih sayang. Semua ini akan kami jadikan pengalaman, dan pengalaman ini akan kami jadikan sebagai pelajaran yang sangat berarti guna menghadapi situasi perkuliahan selanjutnya..sekian dan terima kasih





Daftar Pustaka


Susilowati . 2010 . Peningkatan Kreativitas Anak Usia Dini Melalui Cerita Bergambar Pada Anak Didik Kelompok B TK Bhayangkari 68 Mondokan . Skripsi . Surakarta : Universitas Muhammadiyah Surakarta . Diterbitkan






Dokumentasi
































































Demikianlah laporan mini proyek ini kami sampaikan semoga bermanfaat dalam menambah wawasan teman-teman sekalian. :)

Spesial Terimakasih kepada :

1.Tuhan Yang Maha Esa
2.Dosen Pengampu : Ibu Filia Dina Anggaraeni
3.TK Bhayangkari Batangkuis